Friday, August 31, 2012

Three Times Cafe

Awal  tahun 2000-an, yang namanya Kafe, Coffee Shop, Warung Kopi, dan sejenisnya kayaknya cuma bisa dihitung pakai jari sebelah tangan deh di Jogja. Paling cuma dua - tiga kafe se-Jogja. Lumayan ‘krisis’ hiburan, bioskop juga nggak ada. Kalaupun ada, ya paling bioskop lokal, yang memutar film-film jadul, atau film-fil era Inneke Koesherawaty belum berhijab. Hiburan di Jogja ya paling cuma game center, atau paling persewaan vdc/dvd.

Nah, sekitar tahun 2006, baru deh sedikit demi sedikit kafe mulai bermunculan di kota gudeg ini. Seiringan sama bertambahnya pendatang-pendatang di Jogja. Untuk tempat nongkrong, Jogja terbilang unik. Ada dua tipe kafe di Jogja yang terbagi berdasarkan geografisnya, utara dan selatan. Mungkin hal itu disbebabkan adanya dua kultur pola hidup anak muda di Jogja (utara dan selatan), kafe-kafe itu juga mempunyai dua gaya.

Kafe dengan gaya utara biasanya sejenis coffee shop, yah kayak Coffee Bean atau Starbucks gitu lah, tapi dengan harga Jogja. Sedangkan di selatan tempat nongkrongnya lebih nyantai, nggak formil, ya pokoknya kebalikannya utara. Agak unik sih pembagian utara-selatan di Jogja, tapi justru hal tersebut itu lebih ngebuat Jogja lebih berkarakter, dan Kraton (yang notabene ada di tengah Jogja) menjadi sentral yang menyatukan dua kultur tadi itu.


Semakin kesini, tempat-tempat nongkrong makin banyak dan makin menjamur di Jogja. Salah satunya Three Times Cafe.

Kafe yang terbilang masih bau kencur ini, sebenarnya nggak terlalu luas. Kalo dihitung dari jumlah kursinya, paling cuma muat 20 - 25 pengunjung. Fasilitasnya juga standart, cuma LCD, wi-fi dan beberapa mind games (UNO, kartu remi, mini chess, ular tangga). Walaupun begitu, kafe ini termasuk salah satu favorit anak-anak muda di Jogja. Beberapa alasannya adalah karena waktu operasinya yang 24 jam, tempatnya termasuk di tengah kota, taste minumannya juga layak dicoba, dan harganya seusai sama dompet mahasiswa Jogja.

Friday, August 24, 2012

Gimana Kalo Kita Share?

Jogja lagi panas-panasnya, kalo siang hari bisa sampe 33 derajat celcius. Matahari kayaknya lagi bersahabat sama daratan, lagi nggak mau ngejauh. Waktu menunjukkan pukul 15.40, udah hampir 2 jam Geztha 'ngadem' sambil kerja di Three Times Cafe. Saking panasnya dan dehidrasi, Geztha duduk tepat di bawah AC, yang diarahin langsung ke mukanya.

Geztha lagi nungguin pesanan gelas ketiga Ice Green Tea Latte, minuman favoritnya.

"Mas Geztha, ini Ice Green Tea Latte nya!"
"Ya mas, aku masang charger BB sebentar..." setelah memasang charger Blackberry-nya, Geztha beranjak ke meja barista, mengambil Ice Green Tea Latte pesanannya.
"Astaga, ini udah gelas ketiga lho Gez" ujar barista sembari memberikan segelas Ice Green Tea Latte
"Hahaha, namanya juga minuman favorit, mau gimana lagi, thanks ya"
"Yoi, sama-samaaa"

Geztha, anak muda yang baru aja lulus kuliah itu memang sangat maniak sama Ice Green Tea Latte. Biasanya, sekali nongkrong, bisa ngabisin 2-3 gelas. Bahkan pernah sampai 7 gelas, rekor yang belum terpecahkan. Awalnya, cowok yang punya kulit sawomatang dan muka yang nyerempet-nyerempet Faudzi Baadilah ini cuma iseng-iseng milih minuman Ice Green Tea Latte, gara-gara pesenan Ice Chocolate-nya sedang habis. Tapi setelah ngerasain Ice Green Tea Latte, Geztha malah ketagihan. Di tempat manapun, pesanannya selalu Ice Green Tea Latte, termasuk di sini, di kafe yang hampir dia datengin tiap hari, Three Times Cafe.

Geztha udah kayak 'ngekos' di Three Times Cafe, kafe 24 jam yang terletak di tengah kota Jogjakarta. Karna waktu operasionalnya yang nonstop itu, Geztha jadi sering lupa waktu kalo nongkrong. Minimal sekitar 5 jam dalam sekali nongkrong, itu itungannya kalo nongkrong sendirian. Kalo nongkrong sama temen-temennya ya pasti lebih. Rekor terlamanya nongkrong yang masih bertahan hingga saat ini yaitu nongkrong dari jam 10 pagi hingga jam 12 malam. Makanya gak heran juga sih kalo dia bisa ngabisin segitu banyak Ice Green Tea Latte.