Jogja lagi panas-panasnya, kalo siang hari bisa sampe 33 derajat celcius.
Matahari kayaknya lagi bersahabat sama daratan, lagi nggak mau
ngejauh. Waktu menunjukkan pukul 15.40, udah hampir 2 jam Geztha 'ngadem' sambil kerja di Three Times Cafe.
Saking panasnya dan dehidrasi, Geztha duduk tepat di bawah AC, yang diarahin langsung ke mukanya.
Geztha
lagi nungguin pesanan gelas ketiga Ice Green Tea Latte, minuman favoritnya.
"Mas Geztha, ini Ice Green Tea Latte nya!"
"Ya mas, aku masang charger BB sebentar..." setelah memasang charger Blackberry-nya, Geztha beranjak ke meja barista, mengambil Ice Green Tea Latte pesanannya.
"Astaga, ini udah gelas ketiga lho Gez" ujar barista sembari memberikan segelas Ice Green Tea Latte
"Hahaha, namanya juga minuman favorit, mau gimana lagi, thanks ya"
"Yoi, sama-samaaa"
Geztha, anak muda yang baru aja lulus kuliah itu memang sangat maniak sama Ice Green Tea Latte. Biasanya, sekali nongkrong, bisa ngabisin 2-3 gelas. Bahkan pernah
sampai 7 gelas, rekor yang belum terpecahkan. Awalnya, cowok yang punya kulit sawomatang dan muka yang nyerempet-nyerempet Faudzi Baadilah ini cuma iseng-iseng milih minuman Ice Green Tea Latte, gara-gara pesenan Ice Chocolate-nya sedang habis. Tapi setelah ngerasain Ice Green Tea Latte, Geztha malah ketagihan. Di tempat manapun, pesanannya selalu Ice Green Tea Latte, termasuk di sini, di kafe yang hampir dia datengin tiap hari, Three Times Cafe.
Geztha udah kayak 'ngekos' di Three Times Cafe, kafe 24 jam yang terletak di tengah kota Jogjakarta. Karna waktu
operasionalnya yang nonstop itu, Geztha jadi sering lupa waktu kalo
nongkrong. Minimal sekitar 5 jam dalam sekali nongkrong, itu itungannya
kalo nongkrong sendirian. Kalo nongkrong sama temen-temennya ya pasti
lebih. Rekor terlamanya nongkrong yang masih bertahan hingga saat ini yaitu nongkrong
dari jam 10 pagi hingga jam 12 malam. Makanya gak heran juga sih kalo dia
bisa ngabisin segitu banyak Ice Green Tea Latte.
Mempunyai hobi nulis/ngeblog, punya kerjaan freelance writer di dunia online, dan juga kerjaan sebagai designer yang kliennya beda kota atau bahkan negara, ngebuat Geztha memilih Three Times Cafe sebagai 'kantor'nya. Seminggu minimal 4 kali Geztha kesini. Nyelesain
deadline kerjaannya, dan juga menulis. Dari awal Three Times Cafe mulai beroperasi, Geztha sering banget
nongkrong disini. Sarjana Ekonomi Manajemen UGM itu bahkan punya singgasana
favorit, yaitu dipojokan deket colokan dan juga deket jendela. Jadi
kalo matanya udah sepet sama asep rokok, dia bisa buka jendelanya.
Sebagai seorang penulis, tulisan Geztha udah lumayan banyak dimuat di
beberapa artikel. Tema tulisannya seputar kisah kehidupan sehari-hari,
simpel tapi selalu ada makna diakhir tulisannya. Seperti dirinya, yang
sangat menyukai sesuatu yang simpel. Gayanya gak neko-neko, style fashion-nya
ya cuma kaos oblong, celana panjang jins, sama sepatu Converse warna merah,
warna favoritnya.
"Halo mas Akbaaarrr" tiba-tiba datang perempuan cantik,
mirip-mirip Arumi Bachsin, rambut sebahu, kulit putih, memakai kemeja lengan panjang kotak-kotak hijau putih.
Dilihat dari sapaannya kepada barista, perempuan ini kayaknya juga udah
familiar sama Three Times Cafe. Karna, di Three Times Cafe ini memang mempunyai panggilan sendiri, yaitu ditambah -Bar dari kata barista (seorang peracik kopi di kafe-kafe), setelah nama sebenarnya. Misal seperti barista yang saat ini sedang kerja, nama sebenarnya barista adalah Akmal, nama Akmal
dan -bar pun digabung jadi Akbar (Akmal Barista). Semua itu awalnya
gara-gara Mas Iwan (pemilik Three Times Cafe) sering memanggil baristanya dengan nama seperti itu, para pelanggan pun mengikuti memanggil para barista Three Times Cafe dengan akhiran 'bar'.
Selain Akbar, ada juga 3 barista lainnya yang
namanya juga digabung dengan akhiran Bar. Nubar (Banu Barista), Sabar (Satya Barista), Krisbar (Kris Barista). Pelanggan yang
udah sering dateng kesini, biasanya sudah hafal dan sudah terbiasa
memanggil nama-nama yang diakhiri 'bar' tersebut.
"Pesen apa Mba Vania? Ice Green Tea Latte?" tanya Akbar
"Ya jelas dongggg, apa lagi coba?"
"Hmmm... Maaf lho, tapi Green Tea Latte-nya udah abis"
"Apaaaah!?? Kok bisaaaa???"
"Iya Van, abis, paling nanti malem baru ada lagi, tunggu shift berikutnya"
"Yaaaaaaaahhh, kecewaaaaaaa... padahal udah ngidam dari kemaren"
"Diganti aja deh, kali iniiiiii aja" rayu Akbar
"Gak mauk!"
Mendengar percakapan antara Akbar dan Vania, Geztha langsung menghampiri ke meja kasir sambil membawa Ice Green Tea Latte-nya.
"Eh maaf nyamber nih, kamu Vania ya? Yang fashion blogger itu?" ujar Geztha setibanya di meja kasir, dekat Vania dan Akbar
"I... iya" jawab Vania yang sedikit kaget
"Aku sering liat kamu seliweran di timeline, aku Geztha"
"Oalaaaaah, kamu toh si Geztha Geztha itu.. nama kamu juga sering seliweran kok di timeline. Kamu temen deketnya Tedi kan?"
Jogja memang 'sempit', setiap onliners pasti punya mutual/teman yang sama.
Si Ini ternyata temennya Si Itu, Si Itu ternyata pacarnya Si Ini, dsb. Buat yang belom saling kenal, cuma tinggal tunggu waktu aja buat saling kenal. Entah itu di dunia maya ataupun di dunia nyata. Ya seperti
'kenalannya' Geztha sama Vania barusan. Mutual mereka adalah Tedi,
seorang progammer yang cukup terkenal di Jogja. Tedi merupakan teman dekatnya Geztha. Mereka berdua sudah bersahabat dari SMA. Geztha dan Tedi juga kerap menggarap project bareng.
Sementara Vania 'bertemu' Tedi karna urusan
bisnis. Ketika itu Vania sedang mencari orang untuk membuat web/blog fashionnya. Karena Tedi merupakan progammer yang cukup terkenal di Jogja, sehingga Vania menghubungi Tedi, dan Tedi-lah yang membuat blog/web fashion-nya Vania.
"Iyaa... Eh, kamu keabisan Green Tea Latte ya Van?"
"Iya nih Gez, padahal aku udah ngidam dari kemaren, huh!" ujar Vania sedikit merengut
"Hmmm.. Eh maaf nih, bukannya sok gentle apa gimana, ini udah gelas ketiga Ice Green Tea Latte aku, udah lumayan kembung,
dan ini belum aku sruput. Nggak bakal aku kasih semua ke kamu sih..,
tapi kalo emang kamu ngidam banget, gimana kalo kita share,
separo-separo?"
"Hah, beneraaaannn???" Vania pun langsung terlihat girang.
Vania ternyata sama seperti Geztha, Ice Green Tea Latte holic.Selain karena rasanya, Vania menyukai Ice Green Tea Latte karena warnanya yang hijau. Vania merupakan maniak dengan warna hijau. Bisa dibilang warna hijau juga cerminan kepribadian Vania. Ceria, bahagia dan membuat nyaman orang-orang yang berada disekelilingnya. Corak hijau selalu ia torehkan dalam setiap inspirasinya (fashion). Wajar jika Ice Green Tea Latte menjadi favoritnya sampai kini. Masa lalu Vania juga terbentuk dari Ice Green Tea Latte yang ia minum sekarang. Seperti terkena desiran angin lembut yang terasa sunyi saat ia menyeruput Ice Green Tea Latte dan itu nilai yang tidak terhingga bagi Vania!
"Gak usah sok nanya deh"
"Hahahaha, tapi ini tulus kan?"
"Itung sampe 3, atau aku sruput nih"
"Eh iya iya iya, becandaaaa!! Okeee... Mas Akbaar, aku minta gelas kosong dong, hehehe"
(bersambung)
No comments:
Post a Comment