Nah, sekitar tahun 2006, baru deh sedikit demi sedikit kafe mulai bermunculan di kota gudeg ini. Seiringan sama bertambahnya pendatang-pendatang di Jogja. Untuk tempat nongkrong, Jogja terbilang unik. Ada dua tipe kafe di Jogja yang terbagi berdasarkan geografisnya, utara dan selatan. Mungkin hal itu disbebabkan adanya dua kultur pola hidup anak muda di Jogja (utara dan selatan), kafe-kafe itu juga mempunyai dua gaya.
Kafe dengan gaya utara biasanya sejenis coffee shop, yah kayak Coffee Bean atau Starbucks gitu lah, tapi dengan harga Jogja. Sedangkan di selatan tempat nongkrongnya lebih nyantai, nggak formil, ya pokoknya kebalikannya utara. Agak unik sih pembagian utara-selatan di Jogja, tapi justru hal tersebut itu lebih ngebuat Jogja lebih berkarakter, dan Kraton (yang notabene ada di tengah Jogja) menjadi sentral yang menyatukan dua kultur tadi itu.
Semakin kesini, tempat-tempat nongkrong makin banyak dan makin menjamur di Jogja. Salah satunya Three Times Cafe.
Kafe yang terbilang masih bau kencur ini, sebenarnya nggak terlalu luas. Kalo dihitung dari jumlah kursinya, paling cuma muat 20 - 25 pengunjung. Fasilitasnya juga standart, cuma LCD, wi-fi dan beberapa mind games (UNO, kartu remi, mini chess, ular tangga). Walaupun begitu, kafe ini termasuk salah satu favorit anak-anak muda di Jogja. Beberapa alasannya adalah karena waktu operasinya yang 24 jam, tempatnya termasuk di tengah kota, taste minumannya juga layak dicoba, dan harganya seusai sama dompet mahasiswa Jogja.